Kamis, 20 Juni 2013

Sekelompok Orang Buta


       Sungguh yang membuat pertengkaran hingga terjadinya perang diatas bumi adalah perbedaan sudut pandang. Perbedaan sudut pandang ibarat sekelompok  manusia yang buta . Seekor gajah dilepas dan salah seoarang sibuta meraba kakinya hingga  menyimpulkan kalau gajah bentuknya lurus seperti batang kepala. Sibuta yang satu kebetulan memegang telinga dan menyimpulkan
gajah itu bentuknya pipih, melebar seperti niru. Dan sibuta yang satu dengan getol berkata kalau gajah itu bentuknya memanjang  seperti tali sapu karena bagian ujungnya berbulu. Itu karena sibuta yang satu lagi meraba ekor. Dan dengan santainya yang satu berkata kalau gajah itu bentuknya kenyal dan ber air maklum tangannya  meraba mulut gajah.
        Jika mereka semua dipertemukan maka yang terjadi adalah perang besar. Bertahan dengan kesimpulannya dan masing-masing menyimpulkan sudut pandangannya. Sungguh semua benar namun sungguh juga semua salah karena salah seorang lagi yang buta berkata kalau gajah itu tak bisa diraba  namun aromanya bau. Maklum dia hanya duduk dibagian belakang gajah.  Ketika satu persatu dituntun memegang semua bagian-bagian gajah maka menjadi malu kalau gajah itu bentuknya kaki besar, telinga lebar, punya belalai dan ekor kecil yang memanjang..
       Masih segar diingatan ada seorang tukang becak siap menggantikan syamsul arifin ditahanan KPK. Sudut pandang tukang becak ini akan syamsul mungkin sosok malaikat yang bersih, pelindung rakyat kecil . Mata tukang becak ini buta atas pengenalan aslinya Syamsul Arifin.
       Nah pada awal pemerintahan Join Pas Koran Dairi Pers ditolak dibeberapa dinas. Bahkan ada oknum kadis yang kala itu langsung menempati posisi luar biasa persis  naga bonar dengan tegasnya memerintahkan anak buahnya tidak boleh langganan Dairi Pers. Sudut pandangnya kala itu Dairi Pers Koran oposisi adalah musuh pimpinannya. Hanya setahun lebih menjabat langsung diganti dari jabatan empuk itu kepala dinas ini justru berubah cara pandangnnya menyebut Dairi Perslah yang jujur memberitakan apa adanya. Dia malah minta Koran agar dihantar kerumah. Sudut pandangnnya berubah kala bosnya memutasinya.
       Pro kontra kunker terjadi .Banyak menyebut hebat namun lebih banyak menyebut program aneh. Tergantung sudut pandang. Kalau yang dapat sawer malam pasti sebut mantap. Apalagi petani yang kebetulan ladangnya dipanen. Betapa bangga dan sebut itu program luar biasa karena merupakan sejarah pejabat bisa diperkerjakan di ladangnya. Namun sebahagian dalam sudut pandangnya menyebut itu program “ngaco” karena tidak ada di APBD tetapi sekali dua minggu dilakukan. Semua tergantung sudut pandang
       Maka ketika minggu lalu seorang teman mengirimi saya foto sejumlah kepala dinas tengah bekerja “ Martinanggo” di Stadion Sidikalang konon untuk hajatan pesta putera Bupati kukatakan itu wajar saja. Cuma yang tidak wajar “ martinanggo” saat jam kerja. Bagaimana saya mau keberatan sedang harusnya inspektorat yang dibayar negara untuk mengawasi PNS justru  cuek saja.. Sungguh cara pandang kepala dinas menganggap  itu wajar karena memang sedang buta akan tupoksi.  Buta karena takut jabatan copot . Persis sekelompok orang buta yang tengah meraba-raba gajah. Nanti juga ketika rezim berlalu diperlihatkan foto-fotonya   pasti malu. Apalagi kalau dikirimkan ke anak-anaknya disekolah pasti akan sangat malu.
          Jadi kesimpulannya sederhana ketika sekelompok orang buta tengah “ action” maka tonton saja tingkahnya sambil terpingkal-pingkal. Itu lebih baik karena akan memanjangkan umur tertawa melihat segerombolan orang buta tengah rame-rame menyimpulkan bentuk gajah. (Chief Of Editor)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar