Kamis, 05 Juli 2012

Botol
      Menyaksikan debat terbuka dalam rangkaian pemilukada Cagub DKI  minggu malam di TV One sangat jelas calon yang berkwalitas. Sangat jelas juga calon yang mudah marah  , calon yang hanya pintar bicara, calon pengumbar janji dan calon yang stagnan.
Debat terbuka memang penting membuka kedok seorang calon pemimpin. Mengapa penting ? tentu karena penentu masa depan rakyat . Debat terbuka dapat menseleksi calon musang berbulu ayam dan ayam berbulu musang.
      The founding father Ir Soekarno terkenal piawai membakar semangat dengan hanya berpidato.Dan itu penting saat awal kemerdekaan. Dia juga terjun sebagai petarung tangguh dan tidak pernah menghindar dari musuh. Apalagi berdebat .Jaman reformasi pemimpin yang menghindar dari debat dan dialog dua hal dapat disangkakan yakni pertama sengaja menyimpan kepintarannya dan kedua takut ketahuan botol (Bodoh dan tolol). Secara umum yang terjadi alasan kedua karena botol.seorang pemimpin sengaja menghindar agar tidak ketahuan kedok aslinya kepintarannya sebatas pidato.
      Seorang kandidat cawabup Dairi pernah bercerita kepadaku sangat mudah mencari simpati rakyat. Cukup dengan kepura-puraan. Kalau ke desa melihat sekumpulan orang dan ada anak-anak ingusnya meleleh langsung saja usap dengan baju kita maka simpati rakyat akan diraih otomatis.  Tetapi harus banyak orang lo. Kalau tidak  ada  orang tidak usah. Kalau ada rakyat yang sakit di desa pura-pura saja datang melihat . Kalau ada kibod berikan  sawer dan ciumlah kalau ada nenek renta. Meski dia bau pesing dan kotor tahankan saja maka rakyat jelata yang tidak tahu kepura-puran itu akan menyebut kita baik dan sayang. Baru ini pemimpin yang mau dekat dengan rakyatnya.  Rakyat akan bangga dengan hanya menyalam seorang pemimpin.
      Cukup sedih memang nasib rakyat hanya kebahagian salaman dan “ciuman si judas” sudah langsung  bangga dan puas . Padahal dibalik kepura-puraan itu pemimpinnya bermewah –mewah dengan mobil mewah. Rumah pribadi  mewah yang  nilainya miliaran rupiah dan jumlahnya bukan hanya dua atau tiga unit saja. Belum lagi pola hidup mewahnya suka  melancong ke pusat dan memfoya-foyakan apa yang ada dibawah pusat bersama wanita serta doyan  menghamburkan uang berjudi ke negeri seberang.
      Proses pem”botol”an tengah berlangsung di era pilsung. Rakyat memang terlalu mudah untuk dibohongi. Jelata terlalu mudah untuk diperdaya. Ditengah rakyat juga masih ada budaya salah ucapan terimakasih pada pemerintah. “ Mauliate ma di Pamaretta Nungga Diparatehon hita” Untuk apa ucapkan terimakasih ? bukankah itu tugasnya sebagai pelayan masyarakat? Justru yang terjadi dengan ucapan terimakasih seperti itu membuat pemerintah lupa akan kewajiban, tanggung jawab dan amanah padanya.
      Namun demikian sepertinya dilarang menyalahkan rakyat sekalipun itu untuk merubah cara berfikirnya. Rakyat juga tidak boleh dipersalahkan kalau sudah merasa puas  dengan hanya menyalam pejabat. Rakyat juga tidak boleh disalahkan jika sudah puas dengan saweran. Karena itulah memang jelata. Saya menilai era reformasi ini pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang tahu memanfaatkan kelemahan rakyatnya. Bukan pemimpin yang benar-benar nyata menunjukkan pembangunan. Perubahan dan kemakmuran rakyatnya.
      Jadi kesimpulannya hanya masalah botol dan pemanfaatan botol. Siapa yang bisa membaca botol maka akan menjadi pemenang. Sesungguhnya terlalu banyak pemimpin di negeri ini yang kerjanya hanya memanfaatkan ketertingalan rakyatnya. Dan memanfaatkan keluguan jelata. Namun anehnya rakyat juga malah tidak merasa dibodohi. Jadi inilah dunia kahe…atau dalam bahasa bataknya portibi na mangilas. (Chief Of Editor)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar