Kamis, 08 Januari 2015

Molo Ho… Ho Majo



                Pekan silam saya bertemu rekanan pemborong Dairi yang selama ini suka menjual nama pejabat di Dairi. Wajahnya lesu, pandangannya sayu . Disampingnya seorang oknum PNS yang ku duga selama ini jabatannya melejit hanya karena rajin menyuci piring dirumah pejabat. Lebih seru lagi pandangan mata oknum ini kosong.
Tekanan suara berkurang yang otomatis bukti kalau selama ini juga jabatannya naik hanya karena karbitan.
                Dahulu masa kejayaannya tingkah oknum-oknum ini sulit diterima akal sehat. Menjual nama pejabat. Menakut-nakuti staf lain dengan menyebut nama penguasa . Intinya ingin urusan beres dan tidak banyak dipertanyakan. Saat itu saya mengatakan “ Molo ho ..Ho Majo “. Semua ada musimnya. Jika musim durian bukan hal luar biasa kulit durian juga ikut merasa buah durian.
                Musim adalah alami  yang berganti ketika masanya habis. Maka ketika musim rok mini biarkanlah berlangsung cukup katakan “ Molo Ho …Ho Majo” atau jika musim  anjing kawin jangan lantas cemburu hingga ingin menjadi anjing. “ Cukup dalam hati berkata “ molo ho Ho Majo” . Karena kalau diucapkan dan anjing kawin mendengar kita takutkan mereka balik berkata “ Lo jealous ya? Siapa suruh jadi manusia…..”
                Suatu saat komunitas saya membahas sejumlah oknum yang langsung berubah sikap, penampilan dan gayanya . Dari tampilan yang dipertontoinkan memang merasa nomor wahid, berpengaruh, hebat dan orang dekat. Saya sama sekali tidak tertarik dengan bahasan itu. Bagi saya cukup berkata dalam hati “ Molo Ho…Ho Majo”. Saya tidak pernah menilai orang dari sikapnya yang tiba-tiba hidung menegadah ke langit. Bagiku sikap itu berbahaya. Soalnya jika hujan turun maka harus dibelikan payung khusus menutupi hidung. Jika tidak maka air hujan akan menggenangi lobang hidung. Kelelepan dan akhirnya mata memerah karena singgokan ( maaf penulis belum menemukan bahasa indonesia Singgokan).
                Bagi teman komunitas yang gerah pesan saya sederhana jangan pernah kagum dengan yang demikian. Namun kagumlah bagi orang-orang yang berhasil jika dahulu jalan kaki kini naik sepeda motor. Jika dahulu naik sepeda motor kini naik mobil. Jika dahulu naik mobil kini naik pesawat. Jenis seperti ini yang pantas diacungi jempol. Jika masih tetap jalan kaki lantas hidung menegadah ke langit cukup katakan “ Molo Ho..ho majo”. Ketika musimnya berakhir maka tak terkira banyaknya ludah bakal tersiram diwajahnya.
                Namun demikian bagi yang merasa lagi naik daun jangan juga lantas tersadar karena membaca rublik yang miring kali ini. Anda juga berhak berkata “ Molo Au …Au Majo”. Mumpung masih ada kesempatan. Meski tidak ada hebatnya maka merasalah hebat. Merasalah dipentingkan dan merasalah diperhitungkan.
                Sungguh sikap seperti itu juga dapat menguntungkan. Banyak orang yang bisa terpukau. Bisa terperangah dan percaya. Biasanya itu dari kaum-kaum lugu yang sama sekali belum memahami teknik-teknik opera, sandiwara hingga sinetron.
                Namun bagi yang jam terbangnya tinggi jangan coba-coba bertingkah demikian karena mereka akan melempari senyum dan kalimat singkat “ Molo Ho…Ho Majo”. (Chief Of Editor)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar