Kamis, 22 Mei 2014

si Mordong



            Dahulu awal saya wartawan ada seorang pejabat disebut dengan panggilan si Mordong. Tidak tahu juga mengapa demikian namun nama dan karirnya meroket. Dan kini sudah menjadi orang hebat. Namun yang dibahas kali ini bukan si mordong yang suka lasak .
Namun si Mordong yang lagi galau.
            Ternyata memang kaca dan rekam jejak seseorang sangat berfungsi saat ingin merebut kekuasaan . Ada yang tidak jujur menilai wajahnya di kaca . Percaya diri yang berlebihan hingga merasa pantas , merasa dicintai rakyat juga mungkin merasa bisa merekayasa perolehan suara dari sejumlah punggawanya yang tersebar luas.
 Alah alih ingin jadi presiden semua di terobos. Gerakan persis mordong hingga terlihat bak putus asa. Jika awal pede sekali jadi nomor satu kini nomor duapun jadi . Iklan yang ditayangkan kelak jadi pembohongan setidaknya menunjukkan sifat tidak konsisten . Belum duduk saja tidak konsisten apalagi kalau sudah duduk. Bukan tidak mungkin juga menikam dari belakang setelah proyek menggunting dalam lipatan hampir sukses berat.
Bagi orang yang tidak tahan menderita memang harga diri bukanlah masalah serius.Apalagi yang tidak berpengalaman jadi oposisi akhirnya akan melahirkan kemelut intern yang membuat kapal bocor. Galau karena memaksakan diri. galau karena tidak jujur menilai wajah di kaca . Penilaian layak jual terletak pada budaya lama penuh intrik dan rekayasa. Maka ketika zaman berubah galau dengan gaya mordong.
Saya tidak perduli dengan nasibnya. Juga tidak perduli jika kelak dipersalahkan internnya ataupun bernasib super jadi nomor satu di negeri ini. Namun hanya tertawa kecil saja lihat mordongnnya yang rada gimana gitu? Sekali-sekali orang kecil sepereiku mentertawakan orang-orang besar. Ada rasa puas melihatnya mati kutu. Meski terkesan SMS (Senang Melihat Orang susah dan Susah Melihat orang Senang) tetapi hal itu manusiawilah.
Sungguh saya berharap dia maju jadi  Calon RI 1 saja . Itu lebih baik bagi harga dirinya. Jika menang dia akan berkibar. Dan jika kalah yang menahankan juga paling para punggawanya yang tengah berkuasa di unit-unit daerah.. Para punggawa juga perlu merasakan jadi orang  kalah. Jadi tidak sesumbar lagi apalagi  arogan.  Dan pada akhirnya itu akan membawa pengaruh lebih baik bagi bangsa ini. Tentu kekalahan akan diikuti langkah mordong para punggawanya di local dan regional. Itu saat kita melihat banyak pelawak muncul. Itu saat kita melihat yang dulunya sombong, arogan dan sesumbar tiba-tiba baik dan ramah.  Gaya mordong akan tersosialiasi dari pusat hingga daerah. Maka muncul istilah kren “ Memordongkan Masyarakat dan Memasyarakatkan Mordong”.
Bagi rakyat pilpres kali ini merupakan hal paling enjoy dengan vigur-vigur capres yang maju. Namun bagi sebahagian penguasa yang sudah terbiasa dengan hidup penuh rekayasa dan pilpres kali ini merupakan pilpres paling menakutkan dan penuh dengan was was.
Betapa tidak, kalau yang lain menang sudah pasti kelakuan nakal dan kejahatan korupsi bakal disikat habis. Untuk menjaga kelakukan selama ini pasti lakukan gaya mordong dan obral senyuman berharap kasus tidak terbuka. Kejahatan tidak terungkap. Pokoknya mordonglah.
Sungguh saya pribadi sangat berharap ini bakal terjadi. Namun tipis kemungkinannya. Karena apa yang kulihat sekarang dengan gaya mordongnnya sang capres tetap juga akan menyerah meski tidak dapat jabatan apapun asal bisa angkat telor kepada yang menang. Artinya meski menumpang di jendela juga mau asal di barisan yang  menang. Susah memang ketika tidak punya banyak kemampuan. Akhirnya harga diri bukanlah masalah. (Chief Of Editor)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar