Dahulu
awal saya wartawan ada seorang pejabat disebut dengan panggilan si Mordong.
Tidak tahu juga mengapa demikian namun nama dan karirnya meroket. Dan kini
sudah menjadi orang hebat. Namun yang dibahas kali ini bukan si mordong yang suka
lasak .
Namun si Mordong yang lagi galau.
Ternyata
memang kaca dan rekam jejak seseorang sangat berfungsi saat ingin merebut
kekuasaan . Ada yang tidak jujur menilai wajahnya di kaca . Percaya diri yang
berlebihan hingga merasa pantas , merasa dicintai rakyat juga mungkin merasa
bisa merekayasa perolehan suara dari sejumlah punggawanya yang tersebar luas.
Alah alih ingin jadi presiden semua di
terobos. Gerakan persis mordong hingga terlihat bak putus asa. Jika awal pede
sekali jadi nomor satu kini nomor duapun jadi . Iklan yang ditayangkan kelak
jadi pembohongan setidaknya menunjukkan sifat tidak konsisten . Belum duduk
saja tidak konsisten apalagi kalau sudah duduk. Bukan tidak mungkin juga
menikam dari belakang setelah proyek menggunting dalam lipatan hampir sukses
berat.
Bagi orang yang tidak
tahan menderita memang harga diri bukanlah masalah serius.Apalagi yang tidak
berpengalaman jadi oposisi akhirnya akan melahirkan kemelut intern yang membuat
kapal bocor. Galau karena memaksakan diri. galau karena tidak jujur menilai
wajah di kaca . Penilaian layak jual terletak pada budaya lama penuh intrik dan
rekayasa. Maka ketika zaman berubah galau dengan gaya mordong.
Saya tidak perduli
dengan nasibnya. Juga tidak perduli jika kelak dipersalahkan internnya ataupun
bernasib super jadi nomor satu di negeri ini. Namun hanya tertawa kecil saja
lihat mordongnnya yang rada gimana gitu? Sekali-sekali orang kecil sepereiku
mentertawakan orang-orang besar. Ada rasa puas melihatnya mati kutu. Meski
terkesan SMS (Senang Melihat Orang susah dan Susah Melihat orang Senang) tetapi
hal itu manusiawilah.
Sungguh saya berharap
dia maju jadi Calon RI 1 saja . Itu
lebih baik bagi harga dirinya. Jika menang dia akan berkibar. Dan jika kalah
yang menahankan juga paling para punggawanya yang tengah berkuasa di unit-unit
daerah.. Para punggawa juga perlu merasakan jadi orang kalah. Jadi tidak sesumbar lagi apalagi arogan.
Dan pada akhirnya itu akan membawa pengaruh lebih baik bagi bangsa ini.
Tentu kekalahan akan diikuti langkah mordong para punggawanya di local dan
regional. Itu saat kita melihat banyak pelawak muncul. Itu saat kita melihat
yang dulunya sombong, arogan dan sesumbar tiba-tiba baik dan ramah. Gaya mordong akan tersosialiasi dari pusat
hingga daerah. Maka muncul istilah kren “ Memordongkan Masyarakat dan
Memasyarakatkan Mordong”.
Bagi rakyat pilpres
kali ini merupakan hal paling enjoy dengan vigur-vigur capres yang maju. Namun
bagi sebahagian penguasa yang sudah terbiasa dengan hidup penuh rekayasa dan
pilpres kali ini merupakan pilpres paling menakutkan dan penuh dengan was was.
Betapa tidak, kalau
yang lain menang sudah pasti kelakuan nakal dan kejahatan korupsi bakal disikat
habis. Untuk menjaga kelakukan selama ini pasti lakukan gaya mordong dan obral
senyuman berharap kasus tidak terbuka. Kejahatan tidak terungkap. Pokoknya
mordonglah.
Sungguh saya pribadi
sangat berharap ini bakal terjadi. Namun tipis kemungkinannya. Karena apa yang
kulihat sekarang dengan gaya mordongnnya sang capres tetap juga akan menyerah meski
tidak dapat jabatan apapun asal bisa angkat telor kepada yang menang. Artinya
meski menumpang di jendela juga mau asal di barisan yang menang. Susah memang ketika tidak punya
banyak kemampuan. Akhirnya harga diri bukanlah masalah. (Chief Of Editor)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar